Modul 2 Komunikasi Intrapersonal
MODUL 3 KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Sebagai
makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, manusia sudah memiliki dorongan akan
kebutuhan berinteraksi. Dengan bantuan orang lain, manusia mulai belajar dan
beradaptasi di lingkungannya. Mulai dari merangkak, belajar berdiri, berjalan,
menggunakan alat gerak, hingga bisa berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan,
bisa mengembangkan potensi dalam diri serta hal lain yang membutuhkan
interaksi dengan orang lain. Dalam interaksinya dengan masyarakat, manusia
akan melakukan komunikasi untuk menyampaikan informasi. Komunikasi yang
berlangsung antara individu dengan individu dianggap sebagai
komunikasi secara tatap muka (face to face). Lalu, dalam ilmu
komunikasi dikenal dengan istilah komunikasi antar pribadi.
Komunikasi
antar pribadi dinilai sangat efektif untuk merubah perilaku orang
lain, bila terdapat persamaan mengenai makna yang dibincangkan. Tanda khusus
yang ada di komunikasi antar pribadi ini terletak pada arus balik
langsung. Arus balik tersebut memiliki daya tangkap yang mudah
untuk komunikator baik ecara verbal dalam bentuk kata maupun non-verbal
dalam bentuk bahasa tubuh seperti anggukan, senyuman, mengernyitkan dahi dan
lain sebagainya.
Selama
proses komunikasi antar pribadi berlangsung sangat penting terjadinya interaksi
berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau individu
dengan antar individu supaya terjadi umpan balik dan tidak menimbulkan kesalah
pahaman dalam berkomunikasi.
Menurut Joseph A.Devito dalam buku The Interpersonal Communication
Book (Devito, 1989:4), komunikasi antar pribadi adalah proses
pengiriman dan penerimaan pesan antara dua individu atau antar individu dalam
kelompok dengan beberapa efek dan umpan balik seketika. Sedangkan menurut Evert
M Rogers dalam Depari, komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi dari mulut
ke mulut, dengan interaksi tatap muka antara beberapa orang pribadi.
Lain halnya dengan Dean Barnulus (Liliweri,
1991:12) yang mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi,
dihubungkan dengan pertemuan antara dua individu, tiga individu ataupun lebih
yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur. Begitu pula Onong U.Effendy (Effendy,1993:61), mengutarakan
komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antara dua orang dimana kontak
langsung terjadi dalam bentuk percakapan, bisa langsung berhadapan muka (face
to face) atau bisa melalui media seperti telepon. Ciri khas komunikasi antar
pribadi yakni dua arah atau timbal balik.
Berdasarkan pendapat para teoritikus, bisa dikemukakan bahwa komunikasi
antar pribadi adalah dimana orang – orang yang terlibat dalam komunikasi
menganggap orang lain sebagai pribadi bukan sebagai objek.
Judy
C. Pearson (1983) menyebutkan enam karakteristik komunikasi
antarpribadi adalah sebagai berikut :
1. Komunikasi antarpribadi dimulai dengan diri pribadi (self) Dalam berkomunikasi, terdapat berbagai persepsi komunikasi
yang menyangkut pengamatan dan pemahaman. Semua hal tersebut dihasilkan dari
dalam diri individu. Oleh karena itu, artinya komunikasi antar pribadi dibatasi
oleh siapa diri kita dan bagaimana pengalaman kita..
2. Komunikasi
antarpribadi mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi. Komunikasi antarpribadi dimaksudkan tidak hanya
berkaitan dengan isi pesanyang menjadi media tukar, tetapi juga melibatkan
siapa yang menjadi komunikan serta bagaimana hubungan kita dengan
komunikan tersebut.
3. Komunikasi
antarpribadi mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang
berkomunikasi. Kedekatan saat
berkomunikasi diperlukan baik untuk sang komunikator, maupun juga komunikan.
Oleh karena itu, jarak menjadi sangat penting untuk menilai keberhasilan suatu
komunikai agar mencapai komunikasi yang efektif.
4. Komunikasi
antarpribadi bersifat transaksional. Transaksional
yang menjadi sifat komunikasi antar pribadi mengacu pada tindakan dari
pihak-pihak yang berkomunikasi. Mereka secara serempak menyampaikan dan
menerima pesan.
5. Komunikasi
antarpribadi melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu dengan lainnya.. Dalam sebuah komunikasi antar pribadi, perlu adanya
timbal balik yang berkaitan mengenai topik yang dibicarakan. Apalagi topik
berbeda, akan terjadi kesenjangan dalam berkomunikasi dan menimbulkan
keheningan serta salah pemahaman antara komunikator dan komunikan. Oleh karena
itu, peran pesan menjadi sangat penting.
6. Komunikasi
antarpribadi tidak dapat diubah maupun diulang. Proses penyampaian pesan yang terjadi saat komunikasi
antar pribadi berlangsung tidak dapat diubah atau diulang kembali. Apa yang
telah disampaikan dan dipahami oleh kedua belah pihak akan memberi stimulasi
berbeda – beda. Sehingga, perlu diperhatikan saat penyampaian pesan agar
tercipta komunikasi yang kondusif.
Menurut beberapa ahli dalam bidang studi ilmu
komunikasi, ciri-ciri komunikasi antar pribadi yaitu:
Kumar (Wiryanto, 2005: 36) dan De vito (Sugiyo,
2005: 4)
·
Keterbukaan
(openness), sikap menanggapi
informasi dengan hati yang gembira saat berinteraksi dalam hubungan
antar pribadi.
·
Empati
(empathy), Situasi dimana
komunikan turut merasakan apa yang dirasa oleh orang lain.
·
Dukungan
(supportiveness), situasi terbuka
untuk mendukung komunikasi yang efektif.
·
Rasa
positif (positivenes), perasaan
positif dalam diri turut mendorong orang lain untuk aktif berpartisipasi dan
menciptakan suasana komunikasi yang kondusif.
·
Kesetaraan
(equality), pengakuan
tersembunyi dalam diri kedua belah pihak untuk saling menghargai.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sugiyo,
2005:4). Menurut Departemen Pendidikan Kebudayaan dalam Sugiyo, 2005:4 ,
komunikasi antar pribadi memilki ciri :
·
Adanya partisipasi dalam
arus komunikasi.
·
Terjadinya dialog antar
individu bukan monolog.
·
Adanya interaksi selama
terjadinya komunikasi.
·
Adanya ikatan
psikologis yang melibatkan kedua belah pihak.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan
bahwa komunikasi antar pribadi mempunyai ciri keterbukaan yang ditandai dengan
ketersediaan kedua belah pihak untuk membuka diri. Kemudian saling memberikan
reaksi, dan ikut terlibat merasakan pikiran dan perasaan orang lain selama
komunikasi berlangsung.
Ditinjau berdasar sifatnya, komunikasi antar
pribadi dibagi dalam :
1. Komunikasi verbal. Merupakan bentuk komunikasi yang disampaikan
secara tertulis (written) atau lisan (oral). Komunikasi verbal lebih mudah
disampaikan karena pesan yang disampaikan lebih mudah dimengerti. Ini
disebabkan karena komunikasi ini dapat dilakukan dengan bantuan media telepon,
surat, gambar, lukisan dll.
2. Komunikasi non-verbal. Dimana komunikasi yang disampaikan tidak
menggunakan kata–kata melainkan gerak isyarat bahasa tubuh, ekspesi wajah dan
kontak mata, juga penggunaan objek seperti baju, potongan rambut dsb, serta
cara bicara seperti intonasi nada yang tinggi, gaya bicara, dan kualitas emosi.
Contoh dalam komunikasi non-verbal ini terlihat pada komunikasi gambar seperti
televisi, iklan baliho dll.
Tujuan Komunikasi Antar
Pribadi
Komunikasi Antar Pribadi yang terjadi antar
individu memiliki beberapa tujuan, antara lain :
1. Menyampaikan Informasi – Tujuan utama berkomunikasi ialah
menyampaikan informasi. Lalu di dalam komunikasi antar pribadi ditekankan
kembali mengenai penyampaian informasi yang memiliki sifat intim dan mendekati
komunikasi yang efektif.
2. Menumbuhkan Simpati – Dalam berbagi informasi, ada kalanya
terselip beberapa pesan yang merupakan pengalaman pribadi. Baik dalam bentuknya
pengalaman menyenangkan atau menyedihkan. Dari sana timbul rasa simpati yang
dirasakan oleh kedua belah pihak.
3. Menumbuhkan Motivasi – Tidak jarang pula dari informasi yang
dibagikan menimbulkan motivasi tersendiri. Apabila pesan tersebut berisi kisah
– kisah inspiratif yang mampu menggugah kepribadian diri
Manfaat Mempelajari
Komunikasi Antar Pribadi
·
Komunikasi antar pribadi
menjadikan kita lebih mengenal diri sendiri dan terbuka pada orang lain, serta
mengetahui cara menanggapi dan memprediksi sikap dan tindakan orang lain pada
kita.
·
Membuat kita menjadi
lebih mengetahui dan mengenal lingkungan, kejadian sekitar juga orang lain
·
Mengajarkan kita untuk
lebih menghargai dan memelihara hubungan yang baik dengan orang lain guna
meningkatkan rasa positif dalam diri dan meniadakan rasa kesepian, ketegangan
dan stress.
·
Banyak waktu dapat
dimanfaatkan untuk merubah pandangan orang tentang kita melalui komunikasi
antar pribadi
·
Ilmu komunikasi antar
pribadi dapat dimanfaatkan untuk membantu orang lain dalam mmberikan nasihat
dan saran seperti pada pekerjaan psikiater, psikolog dan ahli terapi.
Demi menunjang kehidupan
sosial, kita juga memelihara hubungan dengan orang lain, sahabat, orang tua,
pasangan juga saudara. Oleh karena itu, komunikasi antar pribadi sebaiknya
mulai diterapkan dalam diri kita sendiri, agar memudahkan kita dalam
berkomunikasi dengan orang lain dengan memiliki pikiran terbuka untuk
menghindari kesalah pahaman.
Bahkan dalam
berkomunikasi, setiap pendapat yang mengganjal dalam hati dapat tersampaikan
dan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang mampu berkomunikasi secara
efektif.
KOMUNIKASI EFEKTIF
Tidak berarti kita selalu dapat berkomunikasi dengan baik
walaupun melakukannya setiap hari. Kerap terjadi hal-hal seperti kesalahpahaman
dan pertengkaran. Karena itu, kita perlu memahami bagaimana teknik komunikasi
yang efektif guna meminimalisir terjadinya hal-hal tersebut. Bagaimana
caranya?
Manfaat Komunikasi Efektif
Sebelum kita
membahas mengenai teknik komunikasi yang efektif, kita perlu memahami dulu apa
manfaat dari komunikasi efektif itu. Berikut adalah beberapa manfaat dari
komunikasi efektif:
1. Pesan
tersampaikan dengan baik.
2. Pesan
diterima sesuai dengan yang kita maksudkan dan harapkan.
3. Mengurangi
terjadinya kesalahpahaman.
4. Konflik
dan permasalahan dapat terselesaikan dengan cepat.
5. Hubungan
yang terjalin lebih erat.
Sebelum kita lanjutkan membahas bagaimana teknik komunikasi
yang efektif, kita juga perlu memahami lebih dulu hakikat dan pengertian dari
komunikasi. Pada dasarnya, komunikasi adalah proses menyampaikan pesan dari
satu pihak kepada pihak lain melalui media atau perantara, yang terkadang
terhambat oleh gangguan atau noise. Pengertian
yang sederhana, namun pada prakteknya kita sering mendapati tidak sesederhana
itu.
Hal yang sering salah kaprah mengenai komunikasi adalah
komunikasi hanya tentang bicara. Padahal, sesuai dengan pengertian,
komunikasi adalah menyampaikan pesan dan tidak disebutkan harus selalu bicara.
Tanpa kita sadari, ada elemen-elemen yang turut menyampaikan pesan selain
ucapan verbal yang keluar dari mulut kita. Elemen-elemen itu dikenal dengan
komunikasi non-verbal.
Ilustrasi sederhananya begini. Teman kita
meminta untuk melihat tugas kuliah yang kita kerjakan, dengan alasan sebagai
bahan review. Tapi kita tahu kalau teman kita itu biasa
menyalin tugas orang lain untuk dikumpulkan atas namanya sendiri. Kita khawatir
terjadi seperti itu, tidak mau hasil kerja kita dicontek habis. Namun, di
sisi lain tidak enak juga kalau harus menolak langsung. Akhirnya kita hanya
mengiyakan sambil lalu tapi bilang, “Nanti ya,” dengan ekspresi wajah tidak
rela dan gerak tubuh yang tak nyaman ingin cepat-cepat pergi dari situ.
Kata-kata yang kita keluarkan mungkin
hanya nanti ya, tapi ekspresi wajah dan gestur tubuh kita
menunjukkan kalau kita tidak mau memberikan tugas pada teman kita. Kalau teman
kita menangkap pesan yang kita komunikasikan, ia akan mengerti bahwa ia tidak
akan dapat melihat tugas kita. Namun kalau pesan itu tak sampai padanya, ia
akan salah memahami dan menganggap kita benar-benar akan memberikannya
nanti.
Hal lain yang penting dalam komunikasi adalah persepsi.
Menurut Julia T. Wood,persepsi
adalah proses penyeleksian, pengorganisasian, dan penggambaran atau
interpretasi atas pesan yang diterima. Proses persepsi ini dapat terpengaruh
berbagai hal, seperti keadaan si penerima pesan dan lingkungan tempat pesan
disampaikan. Dengan adanya faktor-faktor ini, pesan yang disampaikan bisa jadi
dipersepsikan berbeda dengan maksud pesan itu sendiri.
Masih mengacu pada ilustrasi sebelumnya soal peminjaman
tugas. Teman kita itu memiliki pengalaman baik ketika minta tolong pada kita,
dimana sebelumnya kita sering membantu dirinya. Berdasarkan pengalaman itu,
teman kita yakin kalau kita akan memberikan tugas padanya. Jadi setelah kita
mengkomunikasikan pesan berikut gestur dan ekspresi wajah tidak nyaman itu,
teman kita tidak begitu menangkap hal itu dan mempersepsikan sesuai keadaannya
akan pengalaman masa lalu dimana kita telah membantunya. Dan mempersepsikan
kalau kali ini kita juga akan membantunya.
Kalau sebelumnya kita telah memahami mengenai
komunikasi, sekarang berlanjut pada komunikasi efektif. Komunikasi efektif
adalah penyampaian pesan yang terlaksana sesuai dengan maksud dan tujuan si
pengirim pesan. Komunikasi efektif merupakan hal yang diinginkan oleh setiap
pelaku komunikasi, dimana apa yang mereka sampaikan diterima sesuai dengan yang
mereka inginkan.
Kita mungkin sering berkata, mengapa orang tidak
mengerti maksudku? Bukan hanya Anda yang pernah bertanya seperti itu, tapi juga
kebanyakan orang di dunia. Bukan diri kita yang salah, tapi mungkin kita perlu
menganalisis lagi apakah komunikasi yang kita lakukan sudah efektif atau belum.
Apakah pesan yang kita sampaikan itu sudah sesuai dengan maksud kita, sehingga
dapat diterima sesuai dengan maksud juga.
Dengan adanya komunikasi yang efektif,
permasalahan mendasar dalam komunikasi seperti kesalahpahaman dan pesan yang
tak sampai dapat diatasi. Permasalahan-permasalahan itu mungkin tidak dapat
selamanya hilang, namun dapat diminimalisir seminim mungkin. Dengan begitu,
pesan yang disampaikan lebih dapat diterima dengan baik.
Mungkin tidak mudah mendapatkan komunikasi yang
efektif, terlebih jika banyak gangguan dalam proses penyampaian pesan. Namun
bagaimanapun, itu bukan hal yang mustahil. Setiap pelaku komunikasi dapat
menerapkan komunikasi yang efektif dan mendapatkan tujuan yang ia inginkan.
Yang terpenting adalah terus menerapkan teknik-teknik komunikasi yang efektif
secara berkelanjutan.
Setelah memahami manfaat apa saja yang didapat
dari komunikasi efektif, sekarang kita akan membahas mengenai teknik-teknik apa
saja untuk mendapatkan komunikasi yang efektif. Berikut adalah beberapa teknik
komunikasi efektif yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:
· Mengecek Persepsi
dengan Pemberi Pesan. Seperti yang disebutkan sebelumnnya, dalam
komunikasi tak lepas dari proses interpretasi pesan atau persepsi. Guna
mendapatkan komunikasi yang efektif, yang perlu kita lakukan adalah menyamakan
persepsi. Jika kita sebagai penerima pesan dan merasa persepsi terhadap pesan
itu subjektif, kita perlu langsung mengkonfirmasikan pada pengirim pesan apakah
benar persepsi kita itu. Dengan mengkonfirmasi langsung, kita dapat menerima
penjelasan dari maksud sesungguhnya atas pesan yang disampaikan itu dari si
pengirim.
Selain itu, kita juga perlu
berlatih membedakan mana opini dan mana kesimpulan. Opini diambil dari perasaan
dan pengamatan pribadi, sedangkan kesimpulan diambil dari fakta yang ada.
Sebisa mungkin kita mempersepsikan pesan yang diterima berdasarkan kesimpulan,
bukan opini. Dan jika kita sebagai pengirim pesan, sebaiknya jangan
terburu-buru mengasumsikan bagaimana persepsi orang dan hindari membaca pikiran
si penerima pesan. Berikan ia waktu untuk menyerap dan mengolah pesan yang kita
berikan.
· Melatih Kemampuan
Komunikasi Verbal. Komunikasi verbal memang bukan satu-satunya elemen komunikasi,
namun peranannya tidak bisa dianggap enteng. Dalam melatih komunikasi verbal,
hal pertama yang harus kita perhatikan adalah melihat dengan siapa kita
berbicara. Tentunya kita perlu membedakan bagaimana penggunaan bahasa yang
digunakan ketika bicara dengan teman, bagaimana dengan orang yang lebih tua,
atau dengan rekan bisnis profesional.
Selain itu, kita perlu
memahami bahwa ada kata-kata atau kalimat yang bermakna abstrak. Kata atau
kalimat ini tidak jelas makna pastinya, namun tidak berarti sama sekali tidak
digunakan. Kita hanya perlu mengatur dan menyeleksi kapan dan apa saja kata
abstrak yang dapat kita ucapkan. Dan tentunya pada siapa kita dapat
mengucapkannya.
· Melatih Kemampuan
Komunikasi Non-Verbal. Komunikasi non-verbal bisa dianggap lebih
memiliki peranan kuat dibanding komunikasi verbal. Namun, penggunaannya sedikit
lebih sulit karena terkadang tidak begitu kita perhatikan dengan seksama.
Komunikasi non-verbal terdiri dari gerak tubuh, mimik wajah, penampilan fisik,
sentuhan, jarak personal, lingkungan, dan bahkan kediaman. Diam dapat
mengkomunikasikan banyak hal, seperti apakah orang itu sedang marah atau tidak
nyaman karena berada di lingkungan yang baru.
Karena komunikasi non-verbal
memiliki peranan yang kuat, kita perlu terus berlatih untuk mengontrolnya.
Misalnya, mengontrol mimik wajah. Mungkin saja wajah kita memang cenderung
seperti orang tidak ramah sehingga kerap membuat orang lain salah paham. Kita
dapat melatihnya dengan sering-sering senyum di depan kaca atau senam wajah
supaya lebih rileks.
Komunikasi non-verbal juga
memegang peranan penting dalam berkomunikasi via media, terutama media sosial
yang kerap digandrungi banyak orang. Karena tidak bertemu langsung, orang tidak
dapat melihat mimik wajah atau intonasi suara yang bicara sehingga dapat
menimbulkan kesalahpahaman. Kita dapat mengatasinya dengan penggunaan bahasa
tulisan dan tanda baca yang tepat. Seperti misalnya, menghindari penggunaan
huruf kapital pada banyak kata dan tanda seru.
· Mendengarkan dengan
Baik. Guna memahami pesan yang disampaikan orang lain, kita harus
mendengarkan dengan baik. Mendengarkan tidak kalah pentingnya dengan
penyampaian itu sendiri, supaya kita dapat menerima pesan sesuai yang dimaksud
oleh pengirim pesan. Yang paling penting dalam mendengarkan adalah fokus pada
apa yang disampaikan. Jangan melihat ke berbagai arah, tapi lihatlah si
penerima pesan dan apa yang ia sampaikan.
Selain itu, kita tidak perlu
mengira-ngira apa yang akan dibicarakan orang itu. Hal itu justru akan membuat
kita tidak fokus dengan apa yang disampaikan saat ini, dan kita malah
jadi tidak paham dengan maksud pesan itu. Kita juga dapat memberikan respon
sambil mendengarkan pesan, seperti melontarkan pertanyaan atau sahutan.
Misalnya mengucapkan, “Oh iya?”, “Masa?”, “Terus bagaimana lagi?” dan lain
sebagainya.
Dengan mendengarkan baik-baik
dan memberi tanggapan, orang akan merasa dihargai. Hal itu dapat mendukung ia
untuk menyampaikan pesan lebih baik lagi, sehingga kita pun dapat menerima
pesan jauh lebih baik. Namun kita tidak perlu merasa kalau mendengarkan adalah
suatu beban, namun dengarkan saja dengan santai sehingga kita dapat menyimak
lebih baik.
Hambatan Komunikasi
Proses komunikasi tidak akan berjalan apabila tidak didukung oleh
berbagai elemen atau komponen komunikasi yaitu pengirim (sender), pesan (message), encoding, saluran (channel), penerima
(receiver), decoding, umpan
balik (feedback), gangguan/hambatan (noise), dan konteks (context). Setiap elemen atau
komponen dalam proses komunikasi menunjukkan kualitas komunikasi itu sendiri.
Masalah akan timbul apabila salah satu dari elemen komunikasi tersebut
mengalami hambatan yang menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif.
Hambatan komunikasi ini
dapat terjadi pada semua konteks komunikasi, yaitu komunikasi antarpribadi atau komunikasi
interpersonal, komunikasi massa, komunikasi organisasi atau komunikasi
kelompok. Hambatan komunikasi yang terjadi dalam berbagai konteks komunikasi
dapat menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif.
Komunikasi adalah suatu
proses pertukaran informasi yang berupa kata-kata, nada suara, dan bahasa
tubuh. Berbagai hasil studi menunjukkan bahwa saat kita berkomunikasi atau
bertukar informasi, kita menggunakan kata-kata sekitar 7 persen, nada suara
sekitar 55 persen dan bahasa tubuh sekitar 38 persen. Kemudian agar komunikasi
dapat berjalan efektif, maka kita harus memahami bentuk-bentuk informasi ini,
bagaimana menggunakan bentuk-bentuk informasi dengan efektif dan hambatan dalam
proses komunikasi. Business Dictionary menjelaskan
pengertian hambatan komunikasi dalam konteks komunikasi organisasi, yaitu
rintangan yang terjadi dalam lingkungan kerja saat menyajikan pertukaran ide
atau gagasan atau pikiran. Adapun hambatan yang terjadi meliputi perbedan
status, perbedaan gender, perbedaan budaya, prasangka dan lingkungan
organisasi.
Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan
yang diterima oleh komunikan/komunikator. Pertama-tama, komunikator atau
pengirim atau sender menyandi (encode) pesan yang
akan disampaikan kepada komunikan/komunikator.
Dalam artian,
komunikator memformulasikan pikiran dan/atau apa yang dirasakan ke dalam
lambang yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan/komunikate. Pesan
sebagai bentuk keluaran dari proses penyandian yang dilakukan oleh komunikator.
Kemudian dikirimkan melalui saluran tertentu atau media komunikasi dapat berupa
komunikasi tatap muka maupun bermedia.
Kemudian, komunikan/komunikator mengawal sandi (decode) pesan dari komunikator. Maksudnya adalah
komunikan/komunikator melakukan penafsiran lambang yang dikirimkan oleh
komunikator ke dalam konteks pengertiannya. Apabila komunikan/komunikator
memberikan persepsi yang berbeda terhadap pesan yang disampaikan komunikator,
maka akan terjadi sebuah hambatan atau gangguan komunikasi. Terakhir, umpan
balik atau feedback akan terjadi manakala
komunikan/komunikate memberikan respon atau tanggapan terhadap pesan yang
disampaikan oleh komunikator dan mengembalikan pesan kepada komunikator.
Komunikator à Pesan à Media pengantar pesan à Komunikan à Efek pesan
Hambatan komunikasi
adalah segala sesuatu yang menghalangi atau mengganggu tercapainya komunikasi
yang efektif. Hambatan komunikasi dapat mempersulit dalam mengirim pesan yang
jelas, mempersulit pemahaman terhadap pesan yang dikirimkan, serta mempersulit
dalam memberikan umpan balik yang sesuai. Secara garis besar, terdapat 4 (empat)
jenis hambatan komunikasi yaitu hambatan personal, hambatan fisik, hambatan
kultural atau budaya, serta hambatan lingkungan
·
Hambatan
personal
Hambatan personal
merupakan hambatan yang terjadi pada peserta komunikasi, baik komunikator
maupun komunikan/komunikate. Hambatan personal dalam komunikasi meliputi sikap,
emosi, stereotyping, prasangka, bias, dan lain-lain.
·
Hambatan
kultural atau budaya
Komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang
memiliki kebudayaan dan latar belakang yang berbeda mengandung arti bahwa kita
harus memahami perbedaan dalam hal nilai-nilai, kepercayaan, dan sikap yang
dipegang oleh orang lain.
Hambatan kultural atau budaya mencakup bahasa,
kepercayan dan keyakinan. Hambatan bahasa terjadi ketika orang yang
berkomunikasi tidak menggunakan bahasa yang sama, atau tidak memiliki tingkat
kemampuan berbahasa yang sama.
Hambatan juga dapat terjadi ketika kita
menggunakan tingkat berbahasa yang tidak sesuai atau ketika kita menggunakan
jargon atau bahasa “slang” atau “prokem” atau “alay” yang tidak dipahami oleh
satu atau lebih orang yang diajak berkomunikasi.
Hal lain yang turut memberikan kontribusi
terjadinya hambatan bahasa adalah situasi dimana percakapan terjadi dan bidang
pengalaman ataupun kerangka referensi yang dimiliki oleh peserta komunikasi
mengenai hal yang menjadi topik pembicaraan.
·
Hambatan
fisik
Beberapa gangguan fisik dapat mempengaruhi
efektivitas komunikasi. Hambatan fisik komunikasi mencakup panggilan telepon,
jarak antar individu, dan radio. Hambatan fisik ini pada umumnya dapat diatasi.
·
Hambatan
lingkungan
Tidak semua hambatan komunikasi disebabkan oleh
manusia sebagai peserta komunikasi. Terdapat beberapa faktor lingkungan yang
turut mempengaruhi proses komunikasi yang efektif. Pesan yang disampaikan oleh
komunikator dapat mengalami rintangan yang dipicu oleh faktor lingkungan yaitu
latar belakang fisik atau situasi dimana komunikasi terjadi. Hambatan
lingkungan ini mencakup tingkat aktifitas, tingkat kenyamanan, gangguan, serta
waktu.
Cara Mengatasi Hambatan Komunikasi
Berbagai
hambatan komunikasi yang dapat menyebabkan ketidakefektifan komunikasi dapat
kita atasi dengan memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Pengirim
pesan/komunikator/sender
Komunikasi adalah suatu proses yang berlangsung dua arah
dan diawali oleh pengirim pesan. Pengirim pesan hendaknya merumuskan informasi
sedemikian rupa agar tujuan komunikasi tercapai. Pengirim pesan harus proaktif
dalam membuat penerima/komunikan /komunikator/receiver mengerti
dan memahami pesan yang disampaikan. Seringkali, apa yang dikatakan tidak
selalu sesuai dengan apa yang didengar. Untuk menghindarinya, hal-hal yang
harus dilakukan adalah:
§
Menyatakan satu ide
atau gagasan dalam satu waktu.
§
Menyatakan ide atau gagasan
dengan singkat.
§
Memberikan penjelasan
ketika diperlukan.
§
Melakukan pengulangan
jika diperlukan.
§
Menerima dan
memberikan umpan balik.
§
Melakukan pilihan
kata, nada suara dan bahasa tubuh yang tepat.
§
Mengembangkan sikap
empati terhadap penerima/komunikan/komunikate/receiver dalam
mengatasi hambatan kultural atau budaya dalam komunikasi.
2. Pesan
Pesan merupakan informasi sederhana yang ingin disampaikan
oleh pengirim pesan kepada penerima. Pesan dapat berupa pesan verbal maupun
pesan non verbal. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya masalah, pengirim
harus :
§
Menggunakan
terminologi yang tepat.
§
Berbicara dengan
jelas.
§
Waktu pengiriman pesan
disesuaikan dengan kesiapan penerima pesan untuk mendengarkan atau menerima
pesan.
§
Menggunakan volume
suara yang sesuai.
§
Pesan yang disampaikan
hendaknya bersifat inklusif dan informatif. Inklusif artinya bahwa pesan berisi
segala sesuatu yang diperlukan oleh penerima pesan untuk memahami maksud
pengirim. Informasi artinya pesan merupakan sesuatu yang ingin diketahui oleh
penerima pesan.
3. Penerima/komunikan/komunikate/receiver
Penerima pesan membutuhkan informasi untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Untuk itu, penerima pesan harus memegang kendali atas seluruh
proses komunikasi yang berlangsung. Agar penerima pesan memegang kendali,
adalah penting bagi penerima pesan untuk yakin bahwa pengirim pesan memahami
apa yang diinginkan oleh penerima pesan dan mengapa mereka menginginkannya.
Aktif mendengarkan adalah suatu proses yang digunakan oleh
penerima pesan untuk memfasilitasi komunikasi dan meningkatkan penampilan.
Dalam artian, penerima pesan aktif dalam proses komunikasi. Agar penerima pesan
dapat mendengarkan dengan aktif, hal-hal yang perlu dilakukan oleh penerima
pesan adalah:
§
Fokus perhatian pada
pesan yang disampaikan dengan memberikan momen prioritas. Jika memungkinkan
melihat atau melakukan kontak mata kepada pengirim pesan.
§
Mendengar dan melihat
isi pesan tidak langsung atau non-verbal sama baiknya ketika mendengarkan
kata-kata. Perhatikan petunjuk non-verbal yang menyajikan informasi berdasar
pada apa yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan. Persepsi yang diberikan
oleh penerima pesan terhadap pesan dan pengirim pesan dapat berbeda. Pilihan
kata, nada suara, posisi tubuh, geture dan gerakan mata merefleksikan perasaan
dibalik kata-kata yang diucapkan.
§
Menjaga pikiran tetap
terbuka dan hindari penilaian.
§
Melakukan verfikasi
terhadap apa yang didengar atau disampaikan. Jangan berasumsi bahwa persepsi
yang diberikan terhadap pesan merupakan bentuk persetujuan dengan tujuan
pengirim pesan. Berikan umpan balik yang tepat kepada pengirim pesan.
4. Umpan Balik Pesan
Penerima yang efektif memverifikasi pemahaman mereka
terhadap pesan yang dikirim oleh pengirim pesan. Mereka menyadari kata-kata,
nada suara, dan bahasa tubuh ketika mereka memberikan umpan balik. Berbagai
bentuk umpan balik yang diberikan dapat berupa pengakuan, pengulangan, dan
parafrase.
Kemudian, yang dimaksud dengan pengakuan adalah bahwa
penerima pesan telah menerima dan memahami pesan yang disampaikan. Untuk pesan
yang bersifat informatif yang rumit, pengakuan saja tidaklah cukup untuk
memastikan dan memahami pesan yang disampaikan. Sedangkan, yang dimaksud dengan
pengulangan adalah mengulang kembali kata-kata yang disampaikan oleh pengirim pesan.
Terakhir, yang dimaksud dengan parafrase adalah mengulang
kata-kata yang disampaikan oleh penerima pesan sendiri kepada pengirim pesan.
Parafrase memungkinkan penerima pesan untuk melakukan verifikasi terhadap
pemahaman pesan dan menunjukkan kepada pengirim pesan bahwa penerima pesan
mendengarkan pesan dengan baik.
Setelah mengetahui dan memahami hambatan-hambatan komunikasi, diharapkan
kita dapat merumuskan serta menerapkan cara-cara yang tepat untuk mengatasi
berbagai hambatan komunikasi tersebut ke dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dengan demikian, komunikasi yang efektif pun akan dapat tercapai.
Kiat
Komunikasi Efektif
Selain
Teknik di atas, ada beberapa kiat yang mampu membantu para komunikator untuk
mencapai komunikasi yang efektif, antara lain :
· Penyebutan Nama
dengan Tepat. Penyebutan nama dari lawan bicara anda juga merupakan indikator
utama terjalinnya komunikasi efektif. Apabila Anda memanggil namanya secara
tepat, itu akan memberikan kesan emosional tersendiri. Kesan tersebut bisa saja
merupakan terjalinnya ikatan batin dengan anda. Penyebutan nama yang memberikan
kesan berbeda juga diperlukan, asal dilakukan disaat waktu yang tepat. Hal ini
dapat membedakan diri anda dengan lawan bicaranya yang lain.
· Berbicara dengan
Jelas. Pembicaraan yang mengalir dengan jelas membuat komunikator
terkesan dengan anda. Tidak adanya kesulitan berbicara seperti gagap atau
berbicara dengan suara pelan juga memberikan nilai tersendiri di mata lawan
bicara anda. Mereka akan menganggap bahwa anda adalah lawan bicara yang mampu
memberikan pesan – pesan yang membangun dan menghibur diri mereka.
· Melontarkan Topik –
topik Menarik. Pembicaraan yang hanya fokus dalam satu topik tersebut hanya akan
memberikan kesan bahwa anda merupakan orang yang monoton. Hal ini cenderung
dilakukan orang – orang yang bersifat introvert. Cobalah untuk mencari topik –
topik menarik sesuai dengan ketertarikan lawan bicara dan anda, sehingga
tercipta komunikasi yang menarik dan efektif.
· Memperhatikan Tata
Krama dalam Berbicara. Tata krama dalam berbicara juga perlu
diperhatikan. Pesan yang disampaikan dengan tutur kata yang berurut, jelas,
terperinci namun enak didengar akan membuat komunikator merasa nyaman berbicara
dengan anda. Hindari kata – kata yang terkesan menyinggung hal – hal pribadi.
Terlebih apabila anda memotong pembicaraan komunikator hanya akan meninggalkan
kesan buruk dimatanya.
· Melakukan Kontak Mata
yang Lama. Kontak mata yang dilakukan secara intens akan memberikan kesan
tersendiri bagi sang komunikator. Kesan yang dapat ditimbulkan bisa berupa
perhatian anda terhadap pesan yang disampaikan, memberi kesan bahwa anda
tertarik dengan isi percakapan tersebut. Ketika dilakukan dengan durasi waktu
yang tepat, komunikator dapat menganggap anda yakin dan puas terhadap pilihan anda
dalam menyediakan waktu untuk mendengarkan sang komunikator.
·
Senyum sebagai
Indikator Ketertarikan. Senyum merupakan hadiah teristimewa yang
dapat kita berikan secara cuma – cuma. Dan dalam percakapan, ketika anda
tersenyum kepada lawan bicara anda saat Ia melontarkan hal – hal lucu dan
menarik, menjadi nilai tersendiri bagi anda. Tersenyum sejatinya mampu
menghidupkan dan mengembangkan hubungan baik antara anda dan komunikator.
· Pembahasan Terkait
Minat. Seseorang akan menunjukkan ketertarikannya saat percakapan dimulai
setelah ia dihadapkan dengan pertanyaan bersifat pribadi. Pertanyaan –
pertanyaan pribadi yang masih bersifat general dilontarkan untuk mengetahui
lebih dalam satu sama lain. Pemahaman yang anda dapat juga pesan yang anda
sampaikan setelahnya memberikan prespektif baru baigi komunikator.
· Tunjukkan Rasa
Simpati. Mencoba mengatakan jujur dan memberikan pesan yang berisi motivasi
bisa menghadirkan kekaguman tersendiri dari pihak komunikator. Ini membuktikan
bahwa anda benar – benar mendengar dan membantu menganalisa pesan yang
disampaikan oleh komunikator.
· Memperhatikan Bahasa
Tubuh Komunikator. Bahasa tubuh seperti yang telah dijelaskan dalam komunikasi non
verbal, memiliki peran penting guna menciptakan komunikasi efektif. Kemampuan
menganalisa bahasa tubuh lawan bicara membuat kefektifan komunikasi menjadi
lebih akurat, dan pesan – pesan tersirat atau tidak diterima dengan baik.
Sehingga, anda mampu memberikan respon yang tepat kepada sang komunikator.
· Mampu Menempatkan
Diri Sesuai dengan Situasi dan Kondisi. Kemampuan menempatkan diri
sesuai situasi dan kondisi lawan mampu menyentuh sisi emosional dari lawan
bicara anda. Kemampuan ini dinilai dapat memberi kesan dari lawan bicara bahwa
anda merupakan orang yang fleksible dan mampu beradaptasi di situasi – situasi
yang berbeda.
· Pengungkapan Diri. Sebagai
makhluk sosial, manusia sejatinya adalah makhluk yang juga ingin di dengar.
Menceritakan tentang pengalaman diri sendiri berkaitan dengan minat
komunikator, juga mampu meningkatkan hubungan antar pribadi yang efektif.
Dengan bercerita, komunikator menilai bahwa anda adalah pribadi yang terbuka
dan merasa diberi kepercayaan serta dianggap penting oleh anda.
· Tidak Banyak Memuji
diri Sendiri. Seringkali
tanpa sadar, kita memuji apa saja yang telah kita raih dalam kehidupan kita.
Sebaiknya hal ini tidak dilakukan, karena hanya akan menimbulkan kesan angkuh
dari lawan bicara kita. Sebaliknya, gunakan kata – kata terstruktur dalam
penyampaiannya sehingga tidak menyakiti hati dari lawan bicara anda.
· Penggunaan Kata
“Kami” dan “Kita”. Penggunaan kata kebersamaan dan kesamaan merupakan indikator yang
harus ada dalam membangun komunikasi yang efektif. Terlebih lagi bisa membangun
ikatan berdasarkan minat serta pengalaman yang sama.
Demikian
pembahasan mengenai teknik-teknik komunikasi yang efektif. Semoga dapat menjadi pemicu bagi Anda untuk lebih banyak lagi mencari informasi dan referensi untuk mempelajari dan menjadi pijakan dalam melatih diri untuk meningkatkan kompetensi teknik komunikasi efektif Anda.
Dalam konsep STIFIn diperkenalkan
hubungan sirkulasi segilima karena memang jumlah jenis Mesin Kecerdasan (MK) dalam
STIFIn ada 5 (lima), yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Instinct.
Jenis MK yang terakhir ini menjadikan finalnya sudut pandang STIFIn, artinya
tidak akan ada jenis MK yang ke-enam dan seterusnya dan hal inilah yang
menjadikan keunikan konsep STIFIn karena tidak terdapat pada tipologi
kepribadian populer lainnya semisal pada MBTI, DISC dan sebagainya.
Jenis MK terakhir
yaitu Instict adalah derivasi dari teori starta otak oleh Al Ghazali yaitu “idrak”,
yaitu yang secara fisik berada pada area “dimmagh” dan sesuai pula
dengan teori “reptilian brain” oleh Paul McLean.
Antar masing-masing MK memiliki hubungan yang saling mendukung dan saling menaklukkan sesuai diagram hubungan sirkulasi segilima tersebut, halmana tanda panah biru adalah hubungan pendukungan dan garis panah orange adalah hubungan penaklukkan.
Hubungan COACH atau hubungan yang mendukung adalah hubungan kemistri ketika satu MK secara otomatis tergerak untuk menguatkan MK lain. Misalkan tipe Sensing yang kemistrinya mendukung tipe Thinking, maka dalam rapat organisasi ketika ada dua orang (katakanlah dari tipe Thinking dan tipe Instinct) yang mengajukan ide berbeda, maka si tipe Sensing cenderung setuju dengan ide si Thinking ketimbang si Instinct. Istilah lainnya yang setara adalah “dibutuhkan”. Tipe Sensing mendukung tipe Thinking, sama saja dengan tipe Sensing menguatkan atau dibutuhkan oleh tipe Thinking. Hubungan ini lebih mudah diilustrasikan sebagai hubungan Ringan Tangan.
Hubungan LOCOMOTIVE atau hubungan yang didukung adalah hubungan kemistri ketika satu jenis MK secara otomatis cenderung melemahkan MK lain. Misalkan tipe Feeling didukung oleh tipe Intuiting, maka dalam pertandingan fisik misalnya, si tipe Feeling cenderung melemahkan si tipe Intuiting. Istilah lainnya yang setara adalah membutuhkan. Tipe Feeling didukung tipe Intuiting, sama saja dengan tipe Feeling membutuhkan tipe Intuiting. Hubungan ini adalah kebalikan dari hubungan mendukung, dapat diilustrasikan sebagai hubungan Tangan Kanan.
Hubungan MENTOR atau hubungan yang menaklukkan adalah hubungan kemistri ketika satu jenis MK secara otomatis cenderung mengalahkan MK lain. Misalkan tipe Instinct mengalahkan tipe Feeling, maka dalam pemilu kepala daerah katakanlah pada forum debat (jika factor lainnya dianggap sama; cateris paribus) maka si tipe Instict berpotensi besar untuk menang dalam debat tersebut. Hubungan ini diilustrasikan seperti hubungan Angkat Tangan.
Hubungan CLIMBER atau hubungan yang ditaklukkan
adalah hubungan kemistri ketika satu jenis MK secara otomatis dikalahkan oleh
jenis MK lain. Misalkan tipe Sensing dikalahkan
oleh tipe Intuiting, maka dalam parenting, seorang anak bertipe Sensing
cenderung ditaklukkan oleh ibu bertipe Intuiting sehingga si anak Sensing
cenderung sangat penurut kepada ibunya dan senantiasa mendaki untuk mewujudkan harapan ibunya. Hubungan ini persis jika diilustrasikan sebagai hubungan Cium Tangan.
Hubungan SPARRING atau hubungan persamaan adalah hubungan kemistri ketika seseorang dengan satu jenis MK tertentu berhadapan dengan orang lain berjenis MK yang sama. Misalkan dalam satu tim kerja terdapat dua orang bertipe Sensing, maka kecenderungannya kedua orang tersebut memiliki cara kerja yang sama. Hubungan seperti ini adalah hubungan per-saling-an. Tipe Sensing dengan tipe Sensing lainnya saling kejar mengejar hasil. Sesama tipe Thinking saling memperebutkan tahta, sesama tipe Intuiting saling alot dengan ide-idenya, sesama tipe Feeling saling baper dan sesama tipe Instinct saling cari peran dan kontribusi. Hubungan ini digambarkan sebagai hubungan Jabat Tangan, maksudnya sebagai bentuk manajemen konflik karena tipe MK yang sama berpotensi terjadi gesekan sosial.
Hubungan segilima ala STIFIn akan membentuk sebuah hubungan sosial yang stabil. Antar MK akan terjalin hubungan yang unik dan tunduk sesuai sunatullaah hingga terbentuk harmoni maupun ujian. Misalkan seorang ayah bertipe Feeling diberi ladang amal berupa 1 anak bertipe Intuiting dan 2 adiknya bertipe Sensing , sehingga hubungan si ayah Feeling yang kemistrinya mendukung anak-anak Sensing memungkinkan sang ayah untuk senantiasa memberikan kontribusi besarnya dalam membina anak-anak Sensing-nya. Ladang amal ini tentu tidak akan terjadi secara optimal jika misalnya anak-anaknya bertipe Thinking (yang cenderung takluk pada tipe Feeling), sebab energi kontribusi yang akan dipancarkan sang ayah tidak perlu terlalu besar. Di sisi yang lain, sang ayah juga menerima kontribusi sosial dari keberhasilan anak sulungnya yang bertipe Intuiting. Apalagi, si sulung yang Intuiting berhasil pula menjadi "mentor" yang ideal bagi kedua adiknya (Intuiting menaklukkan Sensing). Namun pada saat yang sama, sang ayah Feeling ditaklukkan oleh istrinya yang bertipe Instinct sehingga butir-butir kebaikan ayah Feeling dipandang sebelah mata (barangkali malah dinihilkan) oleh istrinya tersebut. Begitulah seterusnya, hubungan-hubungan itu saling berinteraksi membentuk kestabilan hubungan sosial.
Hubungan segilima mesti dioptimalkan dengan cara memperkuat ikatan dan mempercepat aliran energi. Memperkuat ikatan adalah bentuk ikhtiar kita untuk menapaki pencapaian, sedangkan mempercepat aliran energi adalah bentuk kontribusi kita untuk dapat memberi manfaat ke banyak orang. Singkatnya, memperkuat ikatan adalah upaya menuju sukses, sedangkan mempercepat aliran energi adalah upaya menuju mulia. Jika keduanya dijalankan dengan baik, maka itulah prinsip hidup Sukses-Mulia. Misalkan seorang yang bertipe Sensing, harus memperkuat ikatan dengan menggembleng dirinya untuk sukses sebagai pedagang ulung, dan di saat yang sama ia mesti pula banyak mengeluarkan keringat atau sebagian harta hasil perdagangannya untuk membantu orang lain. Semakin kuat ikatan dan semakin deras aliran, semakin Sukses-Mulia.
Strategi Komunikasi Umum dan Spesifik <<<klik tautan di kiri untuk menyimak videonya
ASSIGNMENT
1.
Perkirakanlah
warna qolbu dari pribadi-pribadi berikut:
a.
Istri/Suami
(atau calon pasangan bila belum berkeluarga) Saudara.
b.
Seorang
atasan yang paling Saudara kagumi/sukai sepanjang bertugas di BC (tanpa
menyebutkan identitasnya)
c.
Seorang
atasan yang paling tidak Saudara sukai sepanjang bertugas di BC (tanpa
menyebutkan identitasnya)
d.
Seorang
atasan yang paling banyak memberikan dukungan sepanjang karir Saudara di BC
(tanpa menyebutkan identitasnya)
e.
Seorang
tokoh publik (artis, ahli, penceramah, dlsb tapi bukan tokoh politik; sebutkan
identitasnya: Nama dan Profesinya) yang paling Saudara sukai dalam 5 (lima) tahun terakhir.
2.
Deskripsikanlah
masing-masing pribadi tersebut pada nomor 1 yang membuat Saudara mengira bahwa
warna qolbu masing-masing mereka adalah seperti jawaban Saudara pada nomor 1
tersebut.
3.
Dalam
berkomunikasi dengan pribadi-pribadi sebagaimana tersebut pada nomor 1 butir a
s.d. d (butir e tidak termasuk), tentunya ada kalanya berhasil dengan baik dan
adapula masanya tidak berlangsung dengan baik.... ingat-ingatlah, bagaimana
bentuk komunikasi yang berhasil terhadap masing-masing pribadi tersebut dan
uraikan pengalaman Saudara tersebut.
4.
Sama
seperti nomor 3, ingat-ingatlah, bagaimana bentuk komunikasi yang kurang
berhasil terhadap masing-masing pribadi tersebut dan uraikan pengalaman Saudara
tersebut.
Jawaban Saudara boleh
diuraikan secara lengkap dalam suatu matrik (misalnya menggunakan aplikasi MS Excel)
kurang lebih sebagai berikut:
|
|
Istri/Suami/ Calon Pasangan |
Atasan #1 |
Atasan #2 |
Atasan #3 |
Tokoh/Figur Nama: Profesi: |
|
Perkiraan Warna Qolbu |
|
|
|
|
|
|
Deskripsi yang membuat
saya mengira bahwa warna qolbunya demikian |
|
|
|
|
|
|
Uraian pengalaman
berkomunikasi yang berhasil |
|
|
|
|
xxx |
|
Uraian pengalaman
berkomunikasi yang kurang berhasil |
|
|
|
|
xxx |
submit hasil pelaksanaan tugas ini ke email: coach.anton1173@gmail.com
Lanjut ke Modul 4 Komunikasi Publik
